Showing posts with label Wattpad. Show all posts
Showing posts with label Wattpad. Show all posts

Wednesday, January 1, 2020

3 - Hidup itu drama picisan

Hidup bergantung pada alam membuatku selalu menerima apapun yang terjadi diluar kontrol manusia. Di saat bergembira akan panen tapi tiba – tiba ada hujan deras, angin besar atau serangan hama yang membuat panen gagal, kami hanya bisa menerimanya dan bersiap untuk tanam selanjutnya, mencari keberuntungan selanjutnya. Namun aku tidak yakin akan datang keberuntungan selanjutnya setelah Om Andra. Aku sudah terlalu lama menyerah saat dia datang di hidupku.
Pipi dan ujung bibirku masih perih, Kesha memakai cincin saat dia menamparku jadi rasanya lebih sakit daripada tamparan Ibu meskipun intensitasnya sama. Aku tahu ini akan terjadi, dia tidak akan mengerti bahwa di dunia ini ada seseorang yang mendambakan sosok ayah bukannya om – om genit. Dia tidak menerima konsep hubungan platonik antara teman – ah, aku bukan temannya lagi ku kira mengingat dia memanggilku lonte – dan Ayah-nya.
Kembaranku meneteskan air mata, air mata yang sama yang membuat pandanganku kabur tapi aku masih bisa melihat matanya yang sudah tidak bercahaya lagi. Aku melihat mata yang sama sebelum bertemu Om Andra. Mata yang tidak berani berharap, tidak berani bermimpi dan pasrah bahwa tidak akan ada sosok yang diimpikannya. Dia terus mengeluarkan air mata tanpa suara. Aku tahu kenapa, karena akupun tidak memiliki hal yang ingin aku protes, yang ingin aku teriakkan pada dunia. Air mata ini hanya tanda penerimaan pada perubahan, sebuah bentuk kepasrahan. Aku duduk, bersandar pada rangka ranjang yang terbuat dari besi dan menunggu sampai alirannya berhenti.
“Daah Rin”
“Hati – hati Bu” Aku melambai pada Bu Wido yang dibonceng suaminya.
Aku menarik tali tas keatas, lalu berjalan dengan kaki yang berusaha keras menahan tubuhku yang lelah. Jam 9 malam jalanan Surabaya masih ramai tapi entah kenapa kendaraan umum tidak segera muncul diantara kendaraan pribadi yang melintas. Aku mendongak, melihat langit hitam yang pesona bintang-nya tidak terlihat karena tertutup warna abu – abu gelap awan. Aku berharap semoga angkot atau bis segera datang karena mungkin saja sebentar lagi hujan. Sudah hampir tiga bulan cuaca tidak menentu, kadang hujan deras, kadang panas membakar, kadang di siang hari terik dan di malam hari hujan.
Haaah.... tanpa sadar aku menghela nafas lagi memikirkan cuaca ini karena aku jadi teringat dengan masalah yang sedang terjadi di rumah. Mas Alfa dan Mas Alvin berencana menanam melon karena prediksi mereka akan terjadi kemarau tapi setelah tanam dan perawatan satu minggu, hujan deras turun, menenggelam-kan melon – melon. Mas Alfa dan Mas Alvin tidak memberitahuku, mereka tidak ingin aku berfikir macam – macam dan konsentrasi pada kuliah. Aku tahu kabar ini dari Mas Aan yang menanggung biaya hidupku sementara ini karena keuangan di rumah sedang tidak stabil.
Mas Alfa dan Mas Alvin memang selalu bertanggung jawab pada keluarganya, mereka bahkan memberi Mas - Mas yang lain uang dari hasil sawah berapapun itu. Jika mereka sampai meminta bantuan dari adiknya, itu berarti keadaan di rumah memang tidak bagus itulah kenapa aku  mulai mencari pekerjaan seminggu yang lalu, menjadi asisten chef di restoran yang buka sampai subuh ini. Untung saja di fakultasku belum ada kebijakan Magang atau PKL, hanya ada studi kelayakan bisnis. Aku mendapatkan shift dari jam 4 sampai jam 9 malam. Setelah itu aku digantikan Rendy yang nanti bekerja sampai tutup.
Badanku mulai bergerak – gerak tidak nyaman setelah setengah jam menunggu dan tidak ada angkutan umum yang melintas padahal angkutan umum hanya beroperasi sampai jam 10 malam. Itu artinya aku harus naik taksi dan naik taksi tidak murah, rasanya jadi percuma jika uang part time-ku harus digunakan untuk membayarnya. Do’a khusyuk memanggil angkutan terganggu saat sebuah mobil hitam besar tipe SUV berhenti di depanku, menghalangi pandangan. Aku akan menyingkir saat kaca hitam legam turun dan namaku di panggil.
“Arini”
Aku melihat ke dalam dengan ragu – ragu dan menemukan wajah yang hampir kulupakan meskipun seharusnya wajah tampan itu tidak mungkin terlupa tapi aku saja lupa makan jadi wajar.
“Pak Sebastian?”
“Hai. Kamu mau pulang?”
“Iya Pak”
“Masuklah, aku antar”
Aku melihatnya tidak yakin. Kami memang beberapa kali bertemu saat aku bersama Om Andra tapi tidak pernah ada percakapan pribadi diantara kami, bahkan dia terlihat tidak peduli padaku. Jadi rasanya sangat janggal kalau dia sampai menawarkan tumpangan padaku.
“Terimakasih tawarannya tapi saya bisa sendiri” jawabku sopan.
“Kenapa? Sudah ada yang menjemputmu?” tanyanya seakan yakin sekali ada yang berminat menjemputku malam – malam begini kecuali supir angkot tentunya.
“Tidak ada. Saya naik angkot”
“Memangnya masih ada malam – malam begini?”
“Semoga saja. Selamat malam” aku memberinya anggukan hormat kemudian menyingkir dari mobil itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa tidak nyaman lama – lama berhubungan dengan lelaki itu.
Mobil itu tidak kunjung bergerak, malah pintu bagian kemudi-nya terbuka dan lelaki penting itu turun. Dia memakai pantalon dan kemeja yang ketat, tidak ada dasi dan jas. Aku hanya terdiam saat dia menghampiriku. Mau apa dia?
“Sebentar lagi hujan”
Aku mengerutkan kening, menatap langit yang memang semakin pekat dan petir kecil mendukung perkataannya.
“Um... sepertinya”
Wajahnya berkedut kecil, aku sudah terlatih untuk memperhatikan orang lain secara mendetail jadi aku tahu dia sedang kesal pada jawabanku dan itu semakin membuatku bingung. Kenapa?
“Kesha mencari data di perusahaan, kenapa kamu tidak ikut dengannya?”
Cubitan perih muncul di dadaku, “Lebih baik mencari di perusahaan berbeda agar lebih bervariasi”
“Bukan karena hubunganmu dan Pak Andra yang sudah diketahui Kesha?”
Sakit hati, takut dan malu menyerangku bertubi – tubi, membuat jantungku berpacu cepat sampai terasa pusing.  Bagaimana dia bisa tahu?
“Kesha bercerita padaku saat dia mencari data” Lelaki tersenyum miring, senyum yang membuatku ingin menamparnya dengan keras padahal aku sangat membenci kekerasan “Aku salut padamu, kamu bisa bermain sangat lama, tepat di bawah hidung Kesha dan tidak ada yang curiga”
Dia memang terlihat sangat memujiku tapi aku tidak ingin mendapatkan pujian seperti itu. Aku mengeratkan kepalan tanganku, menahan agar tidak melayang di wajah tampannya yang arogan. Demi tuhan, umurnya 35 tahun, bukankah di umur itu manusia lebih mawas diri? Lebih bijaksana? Dia seharusnya sudah bisa mengayomi seorang anak tapi saat ini dia lebih seperti remaja SMA labil yang tidak memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa dia menyinggungku seperti ini saat aku tidak memiliki masalah dengannya.
Aku mencari ponselku dan memesan taksi. Aku ingin segera pergi dari sini, pergi dari makhluk menyebalkan yang tidak punya simpati. Jenis makhluk yang paling aku benci. Ukh, aku tidak pernah dengan mudah mengeluarkan kata benci karena benci memiliki makna yang dalam tapi lelaki ini memang sangat keterlaluan. Aku tidak salah kan.
“Kabur?” tanyanya dengan nada yang membuatku ingin menonjoknya.
Aku memejamkan mata, menggeratkan rahangku, menahan emosi yang bergejolak. Kenapa kamu berfikir kekerasan lagi Rin, kamu bukan gadis seperti ituKamu benci kekerasan. Ingat itu.
“Aku hanya memberi salam, selamat malam” katanya dengan keramahan yang terdengar sangat palsu di telingaku.
Aku tidak membalasnya karena terlalu kesal. Bunyi kendaraannya yang menjauh membuatku semakin lega, setidaknya aku akan berhenti menjadi sesuatu yang aku benci. Taksi yang kupesan datang dan di belakangnya ada angkot yang sangat aku tunggu sejak tadi. Aku sudah terlanjur membuka pintu taksi dan tidak mungkin aku menutupnya lalu masuk angkot. Rasanya dadaku bergelak marah lagi, jika saja lelaki rese itu tidak datang dan membuatku kesal aku bisa naik angkot dan menghemat 20 ribu. Uuurggghhh....
Aku mengerjapkan mata saat dunia terasa bergoyang. Gempa Bumi? Tanganku refleks memegang kepala yang terasa akan copot dari tubuhku. Mual tiba – tiba mendera, membuat kerongkonganku berkontraksi ingin mengeluarkan sesuatu yang asam. Aku segera mencari selokan terdekat dan memuntahkan yang ternyata tidak seheboh bayanganku. Aku memang belum makan apapun sejak jam 2 tapi aku sudah bisa tidak makan sampai selama ini jadi kenapa aku harus sampai seperti ini sakitnya dan tiba – tiba, tanpa ada peringatan sebelumnya. Aku masih menunduk, memuntahkan udara yang tidak membuatku semakin baik. Aku sadar, aku harus menyelamatkan diriku sendiri bagaimanapun caranya.
Aku mengambil ponsel dan memanggil taksi, aku harus segera pulang ke kos. Mungkin aku hanya butuh istirahat dan teh hangat. Aku bersandar di tiang listrik di dekatku, menahan agar tidak terbawa oleh ketidak sadaran yang sangat menggoda karena mempertahankan diriku agar tetap sadar terasa begitu sakit, menusuk – nusuk mata dan kepalaku.
Bertahan Arini, kamu tidak boleh pingsan di sini. Akan sangat merepotkan. Tahan sampai taksinya datang.
Sebuah mobil berhenti di depanku yang sekarang tidak bisa jelas melihat karena semua berputar – putar semu. Aku meraih pintu dan memasukkan diriku kedalamnya, lalu semuanya terasa damai, tidak ada rasa sakit lagi.
Aku bangun disambut dengan rasa sakit dan kaku di tangan kananku, tidak ada rasa pusing dan mual yang membuatku kalah. Sepertinya memang hanya butuh istirahat. Aku menghela nafas lega, mungkin lambungku yang bermasalah mengingat aku memang malas makan setelah berpisah dari Om Andra. Menggelikan memang tapi mau bagaimana lagi, otakku terkalahkan oleh hatiku yang sedang memiliki masalah.
“Anda sudah bangun?”
Aku membuka mataku saat mendengar suara asing yang terdengar sangat formal. Aku bukan hanya menemukan sosok asing tapi juga tempat asing yang terlalu mewah untuk menjadi kamar kosan. Ini seperti di kamar hotel yang sering aku lihat di TV tapi tidak mungkin pelayan hotel memakai pakaian suster rumah sakit. Dia membawa nampan yang tidak salah lagi berisi suntik dan botol obat kecil.
“Syukurlah anda sudah sadar, saya akan menyuntikkan obat dulu. Tuan Sebastian pasti senang mendengar anda sudah siuman.” Katanya dengan ramah lalu melakukan prosedur standar menyuntikkan obat di infusku yang terasa perih setelah merasakan cairan itu mengalir di pembulu darahku.
“Anu... tadi suster bilang Pak Sebastian?”
“Iya. Beliau tidak bisa menunggui anda dan meminta kami untuk mengabari beliau jika anda siuman.”
“Bagaimana bisa saya di sini?”
Suster itu masih tersenyum, “Anda datang kemarin malam, anda pingsan saat Pak Sebastian membawa anda. Asam lambung anda sangat tinggi, nona.”
Aku mengangguk dan menatap langit – langit berwarna putih yang bahkan terlihat begitu mewah. Aku mengerti apa yang dikatakan suster itu tapi aku menolak menerima apa yang otakku proses dari penjelasannya. Terlalu tidak masuk akal. Mungkin aku hanya bermimpi. Pasti begitu. Lebih baik aku tidur lagi.

Monday, December 30, 2019

2 - Dekaplah apa yang sudah kamu miliki, seperti apapun pahitnya karena ada lebih baik dari tiada

Aku tahu ini terlalu berani tapi tidakkah aku punya hak untuk merasakannya meski hanya sedikit. Dada bidang untuk menampung tubuhku dan lengan besar yang menangkupku. Badannya menjadi kaku karena aksiku tapi kemudian menjadi luluh lalu memberiku kehangatan seperti yang ada diangaku. Aku memejamkan mata, menikmati mimpi yang kuciptakan sejak pertama kali aku melihatnya. Namun aku tahu seindah apapun ini, aku tidak bisa menapakinya karena ini seperti awan yang menghilang jika kau sentuh. Aku melepaskan pelukanku perlahan, tidak rela namun harus.
“Ada apa Rin?” tanya Om Andra lembut
“Nggak apa – apa” jawabku bohong dan Om Andra tertawa mengetahuinya
“Arini, Arini, Om ini punya 2 anak perempuan dan satu istri. Om tahu kalau perempuan bilang nggak apa – apa, artinya apa – apa. Jujurlah sama Om, Apa? Masalah cowok?”
Aku menggeleng. Suara dan tatapannya padaku membuatku ingin mengungkapkan semuanya seperti setiap kali kami bertukar kabar tapi aku takut dia akan membenciku.
“Ada apa?” tanyanya lagi lebih menuntut jawaban
“Aku nggak pengen ke Amerika Om”
Air mataku menetes deras setelah mengatakannya, sungguh, aku tidak ingin mengeluarkannya. Otakku sudah memerintah mulutku untuk tidak berkata tapi hatiku terlalu lelah, terlalu penuh dan ingin mengeluarkan semuanya, membaginya dengan seseorang yang dia percayai.
Om Andra mendorong bahuku turun perlahan, membuatku duduk di sofa “Ceritakan semua dari awal Rin”
Aku menceritakan soal ayahku, dimana semuanya berawal. Ayah yang aku ingat adalah sosok pria besar, tinggi, berbicara denganku lebih sedikit dari Ibu dan Mas-Masku. Masku ada 5 dan semuanya lelaki, mereka kadang menyebalkan tapi kadang juga menyenangkan, menggendongku, mengajak main kadang membagiku kola-kola (coca-cola) mereka. Minuman itu mengerikan rasanya, terasa geli dimulut dan rasanya pahit aku tidak tahu kenapa mereka harus sampai menabung untuk membelinya. Aku lebih suka rasa susu yang melumer dilidahku dan mendapatkan buku cerita baru setiap kali Ibu membeli kotak baru.
Ayah selalu mengendarai mobil berwarna hijau yang membuatku bangga. Hanya Ayah yang punya mobil itu dan aku suka setiap kali menaikinya. Ibu akan memangkuku dan aku bisa melihat pohon dan rumah berlarian di depanku. Ayah selalu berangkat saat aku sarapan, ayah selalu memakai celana panjang, kemeja berwarna putih dan tas kotak berwarna hitam yang tidak boleh aku sentuh. Ayah akan menarik tasnya saat aku menyentuhnya. Namun sore hari itu, aku tidak mendengar deruman mobil hijau Ayah. Tidak ada jejak ban lucu yang menggiling tanah halaman depan rumah padahal jejak pagi hari sudah hilang. Jejak ban lucu kesukaanku tidak muncul esok sorenya, sorenya, dan sorenya lagi begitu juga Ayah dan tas kulitnya yang terasa enak setiap disentuh.
Ayah meninggalkan kami semua, keluarga yang dia bentuk sendiri. Kami tidak tahu kerena apa tapi kemudian surat PHK dari pabrik tempat ayah bekerja memberi kami alasan. Ayah bahkan membawa uang pesangonnya dan meninggalkan kami dengan apa yang ada. Ibu yang hanya ibu rumah tangga selama ini menjadi kalut, dia harus menghidupi 6 anak sendirian tanpa keterampilan. Ibu akhirnya ikut bekerja di sawah bersama keluarganya yang selama ini menjadi penyewa sawah. Mas Alfa, Mas Alvin, Mas Faisal dan Mas Aan ikut membantu Ibu sedangkan aku dan Mas Agha yang masih berusia 5 dan 7 tahun tinggal di rumah.
Keluarga kami menjadi gunjingan semua orang, bagaimana tidak saat kehidupan kami yang sempurna menjadi jatuh. Tetangga yang dulu selalu ramah pada kami jadi memincingkan mata curiga, mewaspadai jika kami mencuri. Ibu yang dulu selalu lembut, memeluk meski kadang menjewer sayang, kini menjadi keras karena keadaan. Kami sering kelaparan tapi Ibu tidak akan pernah menerima belas kasihan dari orang – orang dan akhirnya Ibu memutuskan untuk memberikan tiga masku ke keluarga jauh yang mampu dan ingin memiliki anak. Mas Faisal pergi dengan keluarga yang tinggal di Bandung, Mas Aan pergi dengan keluarga yang tinggal di Jakarta tapi kemudian pindah ke Amerika, Mas Agha pergi dengan keluarga yang di Kalimantan. Setelah kepergian ketiga masku itu, Mas Alfa dan Mas Alvin menjagaku lebih dari sebelumnya. Mereka merasa menyesal tidak bisa mempertahankan adik – adik mereka.
Ibu, Mas Alvin dan Mas Alfa bekerja sangat keras melakukan apapun yang bisa dilakukan. Saat aku kelas 2 SMP, kehidupan kami membaik. Warung kecil – kecilan Ibu semakin berkembang, sawah semakin produktif. Mas – masku mungkin tidak lulus SMP tapi mereka giat belajar dari pengalaman. Hanya aku yang tetap menjadi beban, aku selalu naik kelas dengan nilai mepet, Ibu selalu marah akan kebodohanku. Meskipun kehidupan kami membaik tapi Ibu tidak kembali menjadi Ibu yang sebelum Ayah pergi. Ibu tidak akan segan – segan memukul anaknya yang menurutnya salah.
“Tapi seperti apapun, aku sayang Ibu. Aku ingin berbakti pada Ibu tapi aku nggak bisa menjadi apa yang Ibu inginkan. Aku nggak akan sanggup. Apakah aku salah kalau ingin jadi guru TK?”
Selama keadaan berat itu, aku mendapatkan kasih sayang dan bimbingan dari guru TK-ku. Beliau seorang wanita yang sabar, baik dan mengerti aku. Itulah kenapa aku ingin jadi guru TK, aku ingin membantu seorang anak yang memiliki masalah seperti aku.
“Orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak mereka Rin. Mungkin kami terlihat memaksa kalian tapi kami hanya ingin kalian mendapatkan masa depan yang lebih baik dari kami. Jika Kesha ingin jadi guru TK, Om juga akan keberatan. Tapi salah jika Ibumu memukul hanya untuk menunjukkan keinginannya. Tidak ada seorang pun yang berhak dilukai. Kalian semua terluka dan kamu hanya anak – anak, itu tidak seharusnya terjadi.”
“Aku nggak keberatan tentang Ibu yang memukul kok” kataku yang entah bagaimana mengatakannya dengan suara ceria.
“Benarkah?”
Aku menggeleng dan terisak, “Aku ingin dipeluk Ibu. Aku ingin disayang Ibu seperti dulu”
Om Andra membawaku kepelukannya dan aku memeluknya erat. Om Andra tetap memelukku walaupun aku membasahi kemejanya dengan air mata. Aku mungkin keterlaluan tapi aku ingin menikmati ini, pelukan hangat seseorang yang bisa kuanggap sebagai pelukan seorang ayah.
“Maaf Pak”
Om Andra? Minta maaf ke siapa? Aku menggerakkan tubuhku, pipiku rasanya lengket pada kulit sofa. Mataku panas dan kepalaku pusing. Aku pasti menangis sampai ketiduran lagi. Jam berapa ini?
“Tidak masalah, lain kali saja”
“Sekali lagi maaf Pak”
“Kalau begitu saya pergi dulu”
Aku ingat suara itu. Suara Pak Sebastian. Dadaku mengembang bahagia karena Om Andra rela menolak Pak Sebastian demi aku, tentu aku merasa tidak enak tapi tetap saja aku bahagia menjadi prioritasnya saat ini.
Pintu kaca terbuka dan Om Andra muncul, dia tersenyum lembut padaku “Sudah baikan?”
Aku mengangguk malu, “Maaf Om, udah ngerepotin”
“Nah, Om juga sering ngerepotin kamu” katanya rendah hati. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehnya karena aku melakukan semuanya dengan senang hati.
“Jam berapa Om?”
“Jam 5”
Aku ternganga, “Ya ampun, aku tidurnya lama ya”
“Tidak apa. Mau pulang sekarang?”
“Iya Om”
“Makan dulu ya. Mau makan dimana? Om traktir”
“Terserah Om aja deh tapi bentar ya, aku mau beresin muka. Pasti jelek banget deh. Ngeri ya?” tanyaku sambil menyentuh pipiku. Aku memakai eyeliner waterproof tapi tetap saja, aku kan menangisnya entah berapa liter.
Om Andra tertawa “Bukan jelek, tapi lucu”
“Oooom.... jahat ahhh” aku cepat – cepat keluar dari ruangan Om Andra, mencari kamar mandi. Saat aku akan masuk kamar mandi wanita, Pak Sebastian keluar dari kamar mandi lelaki yang ada di seberang kamar mandi wanita. Aku mengangguk, memberinya salam hormat dan segera masuk, tidak ingin dia melihat tampang monster-ku.
Eyeliner waterproof-ku sedikit meluber, membuat berkas hitam di mataku, aku terlihat seperti tidak tidur berminggu – minggu. Mataku merah, rambutku berantakan, hidungku merah dan tidak ada bekas bedak ataupun blush on di wajahku. Hilang semua. Aku mencuci muka, membersihkan semua kekacauan itu, aku hanya memakai lipstik agar terlihat lebih segar. Om Andra mentraktirku makan malam di restoran seafood, selama itu Om Andra melucu, membuat hatiku jadi lebih enteng. Aku mengakhiri hari ini dengan indah setelah aku mengawalinya dengan hati yang terdesak, sesak.
Aku melepaskan seatbelt begitu mobil Om Andra berhenti di gang kosku, “Makasih ya Om”
“Sama – sama cantik. Istirahat ya”
“Iya. Um...” Kami saling bertatapan dan aku mengeluarkan keberanianku untuk mengatakan hal yang sangat penting “Andai Om benar – benar ayahku, aku akan menjadi anak paling bahagia di dunia” kataku dengan segenap hati. Aku merasa malu setelah mengungkapkan impianku padanya.
“Kamu nembak Om nih Rin? Om sih tidak keberatan punya satu putri lagi, apalagi yang pinter masak dan perhatian. Gimana kalau diadopsi saja?” tanyanya dengan wajah jahilnya.
“Om ih... jangan lebai deh. Aku masih punya keluarga. Meski aku nggak punya yang seperti Om tapi aku punya 5 kakak laki – laki yang gagah – gagah nggak tambun kayak Om”
Tangan Om Andra otomatis turun ke perutnya yang mulai membuncit karena jarang olahraga, “Yah udah bawaan usia tapi tetep seksi ini”
“Iiih.. seksi dari mana. Nanti diselingkuhin tante Tessa baru tahu rasa!”
“Oh.. tidak bisaa. Tidak ada yang tahan sama Tessa kecuali Om. Galaknya itu”
Aku menaik – naikkan alisku menggoda “Tapi cinta kaan..”
“Ya cinta lah” kata Om Andra tanpa malu – malu.
Om Andra mungkin orang yang suka bercanda dan agak gokil tapi dia selalu gamblang menunjukkan cintanya kepada keluarga. andai saja.

Tuesday, July 30, 2019

Anugrah Terindah



Pertama kali melihatnya, aku tahu apa yang kurang dari hidupku


Prolog 


"Papa, ini Arini. Arini, ini Papaku"

Lelaki beraut ramah dan tampan itu tersenyum, mengulurkan tangannya "Andra."

Aku membalas ulutan tangannya dengan senyum sopan, "Salam kenal Om"

"Papa traktir makan ya" pinta Kesha dengan manja.

Aku membuka pintu belakang sedangkan Kesha duduk di samping Om Andra.

"Makan padang, mau?" tanya Om Andra yang mulai menjalankan mobil.

Aku tidak suka masakan padang tapi aku tidak mengatakannya, aku masih punya sopan santun dan aku ingin melihatnya lebih dekat. Aku mengintip - intip melalui ujung mataku caranya berinteraksi dengan Kesha.

"Kesha gimana Rin kalau di kampus?" tanya Om Andra dengan suara yang menunjukkan ketegasan namun juga kelembutan kasih sayang di dalamnya.

"Eh, baik kok Om" jawabku singkat karena aku benar - benar tidak tahu harus bicara apa, perasaan bergejolak di dalam dadaku membuatku tidak ingin banyak bicara dan hanya menatapnya.

"Tidak usah takut memberitahu Om kalau Kesha nakal. Om akan mengurungnya di kamar" katanya seakan Kesha itu anak umur 6 tahun bukannya 19 tahun.

"Papa aaah... apaan sih!" protes Kesha setengah kesal setengah manja.

Om Andra tertawa menanggapi protes putrinya. Tawanya berat tapi riang, membuat wajahnya lebih cerah.

"Arini asalnya mana?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Jombang Om"

"Di sini ngekos atau ada keluarga?"

"Nge-Kos Om"

Om Andra tersenyum simpul lalu tidak ada percakapan lagi. Kesha pernah bercerita padaku kalau Om Andra selalu sibuk, mengingat jabatannya sebagai kepala bagian keuangan tapi jika dia masih mau menjemput anaknya seperti saat ini, Om Andra pasti ayah yang baik.

---------------------------------------------------------
 
Baunya harum sekali, lezat, mengundang dan aku yakin warna emas berkilaunya akan menambah selera. Aku mengambil tutup tupperware pasangannya dan menutupnya dengan senyum puas. Om Andra pasti suka. Aku mengemasi nasi dan sayur di tupperware lain, memasukkan ketiga-nya ke dalam tas jinjing yang khusus untuk Om Andra. Harga bukan masalah jika untuk lelaki yang aku cintai itu.

"Mbak mau kencan lagi ya?" Tanya Dian, adik tingkat juga adik kosku saat aku melewati kamarnya yang ada di samping pintu depan. Dia sedang tiduran di lantai sambil menghadap laptop yang mengeluarkan bunyi salah satu game online di Facebook.

"Iyap" jawabku riang.

"Mbak, pacarnya kok nggak pernah datang ke kos sih?"

Aku hanya tersenyum menjawabnya dan segera mengaitkan ikatan sepatuku "Pergi dulu ya. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Langit cerah berwarna biru dengan awan putih jarang-jarang menghiasinya, jika saja ada angin sejuk lembut membelai maka akan sangat menyenangkan tapi apa mau dikata, Surabaya bukan Surabaya tanpa udara panas dan tanpa anginnya. Aku harus berjalan agak jauh sekitar 500 meter untuk sampai di jalan raya. Kantor Om Andra agak jauh dari kosku, harus naik bis kota lalu oper angkot.

45 menit berada di atas kendaraan umum, akhirnya aku sampai di depan Condroadi Tower, gedung bertingkat 23 dan dihuni berbagai perusahaan salah satunya perusahaan Condroadi Finance Surabaya tempat Om Andra bekerja. Begitu masuk, aku tidak langsung naik lift tapi masuk ke toilet, merapikan diri dan menyemprot parfume aroma citrus. Begitu yakin make up dan bajuku cantik, aku baru menuju lift.

"Hai Rin!" Sapa Mbak Lilis, resepsionis gedung itu.

"Hai Mbak. Apa kabar?"

"Baik. Kamu bawain pak Andra makan siang lagi?" Tanyanya melihat tas yang aku bawa.

"Iya mbak"

"Lha, Kesha-nya mana?"

"Katanya nanti nyusul. Ya udah, naik dulu ya mbak"

"Oke"

Aku memencet angka 14, lantai tempat Om Andra bekerja dan begitu keluar hanya sedikit karyawan yang terlihat mengingat ini jam makan siang. Aku mengetuk tiga kali lalu masuk. Ruangan yang telah akrab denganku selama beberapa bulan ini, ruangan itu terasa seperti Om Andra dengan semua perabotan sederhana namun hangat dengan warna coklat-nya lalu wangi citrus yang menyegarkan favorit Om Andra. Itulah kenapa aku memakai parfume dengan wangi itu.

Lelaki yang aku cintai sedang duduk dengan santai di belakang mejanya, menelfon seseorang sepertinya. Om Andra terlihat kaget melihatku dan menurunkan ponselnya.

"Arini? Kapan datang?" Tanyanya dengan suara yang selalu membuat hatiku hangat.

Aku tersenyum lebar, menghampiri Om Andra dan meraih tangannya, memberi ciuman lembut "Barusan Om. Kok kaget gitu?"

"Ah, Om mau ngomong sesuatu ke kamu sebelum kamu datang."

"Kok nggak telfon?"

Om Andra tertawa, memperlihatkan ponselnya yang menyala memperlihatkan menelfon seseorang. Aku. Aku terkesiap, meletakkan tas makan siang untuk Om Andra di meja dan merogoh tas, ponselku berkedip-kedip tapi tidak bersuara. Panggilan Om Andra berhenti dan aku melihat ada 3 Misscall dan 2 SMS dari Om Andra.

"Aku silent" kataku meringis, baru sadar kebodohanku.

Om Andra tidak marah, malah mengeluarkan senyum jenakanya. Aku tertawa dan berjalan ke belakang Om Andra, meletakkan tanganku di pundaknya dan memijitnya dengan tekanan yang tepat untuk membuat otot tegang menjadi rileks sebagai bentuk permintaan maafku "Kaku banget Om."

Om Andra menikmati pijatanku selama 5 menit sebelum menanggapi "Biasa, mau deadline. Ngomong-ngomong, hari ini kamu membawakan apa?"

Aku melepaskan pundak Om Andra dan membukakan tas makan siangnya "Ayam goreng bumbu spesial dan sayur bening, persis seperti favorit Om"

Om Andra tertawa senang, "Siang ini seperti surga. Ditemani bidadari cantik dan makanan lezat"

Aku tersenyum lebar, begitu senang mendengar pujiannya "Aku ambilkan piring dan Kopi untuk Om."

"Kamu selalu tahu apa yang aku mau Arini."

"Tentu saja." Aku berjalan dengan riang ke pintu "apa aku lulus sebagai istri Om?"

"Setelah aku bercerai dari wanita tua, cerewet dan galak itu, aku akan menikahimu"

"aku menunggu" kataku sambil mengedipkan mata.

Aku membuka pintu lebih lebar dan berhadapan dengan sosok asing yang membuatku kaget. Sosok tinggi dan lebar itu memperhatikanku dari atas ke bawah, membuatku gugup karena ketampanan dan otot - otot menggelembung yang membuat kemejanya tertarik ketat.

"Anda.. mencari Om Andra?"

"Ya. Dia ada di dalam?"

Aku mengangguk bersamaan dengan pintu yang terbuka, Om Andra muncul di belakangku. Aku mendongak dan terkesima sekali lagi dengan sosok lelaki di belakangku. Om Andra sangat tampan dan berwibawa, sempurna dengan tubuhnya yang terlihat hangat membuatku ingin memeluknya erat.

"Pak Sebastian, ada apa?" tanya Om Andra yang terdengar lebih formal.

Pak Sebastian. Dia atasan Om Andra? Aku melihat sosok yang fisiknya hampir seperti buto ijo. Besar, tinggi, lebar, dan sayang sekali sangat tampan.

"Saya ingin mengajak anda berbicara sesuatu sambil makan siang, bisa?"

Om Andra melihatku yang memang selalu memperhatikannya, aku memberinya senyum pengertian dan itu membuatnya menjawab, "Tentu. Saya permisi sebentar" Om Andra menyentuh pundakku, menarikku masuk lagi ke dalam kantornya.

"Maaf ya Rin, makanannya jadi mubadzir. Padahal kamu sudah susah buat" katanya dengan lembut penuh penyesalan.

"Nggak apa Om, Arini ngerti kok." Aku beranjak cepat menghampiri mejanya, mengambil jas yang disampirkan di belakang kursi "Om mau pakai jas-nya atau bawa dompetnya aja?"

"Jas-nya"

Aku mengambil jas itu dan memberikannya ke Om Andra dan langsung dia pakai, membuatnya semakin gagah. Tangannya terulur kekepalaku, menyentuhku dengan cara yang selalu membuatku luluh padanya "Maaf ya, Om janji akan mengganti ini. Gimana kalau makan malam? Besok?"

Aku tersenyum lebar, senang dengan kompensasi yang diberikannya "Oke. Janji ya"

"Iya. Om pergi dulu"

"Hati - hati Om."

Tangan besarnya mengusap pipiku sebelum dia pergi dengan Pak Sebastian yang tidak tahu jabatannya apa.

"Putri anda?"

"Bukan, teman putri saya"

Aku hanya bisa mendengar satu percakapan itu karena mereka semakin menjauh dan aku masih di dalam ruangan Om Andra. Aku melihat ayam goreng spesial yang terlihat menyedihkan karena tidak dimakan. Aku menutup kotak plastik itu, memutuskan untuk memberikannya ke Office Boy yang ada di lantai ini. Rasanya masih sedih karena tidak bisa makan bersama Om Andra padahal kami sudah tidak bertemu selama seminggu tapi senang juga karena kami akan makan malam. Aku merasa semangat lagi, memikirkan dimana tempat untuk makan malam yang pas. Aku tidak ingin tiba - tiba Kesha atau kenalanku melihat kami makan bersama. Konsekuensinya aku tahu tidak akan indah.



Wednesday, February 28, 2018

Pindah dari Wattpad ke Blog

Hai, kalian yang nunggu post aku tentang pengalaman-pengalaman, mungkin bakalan terganggu setelah ini.

Kalau kalian nggak tahu, aku ini selain hobi curhat, aku juga hobi bikin cerita fiksi. Kadang sampe nge-drama gitu lah di kehidupan pribadi 😀😀😀😀😀. Sampe amaze karena Bae itu betah gitu sama aku.

Kalau ada yang kepo aku ini nge-drama kayak gimana atau pengen tahu suara aku yang super merdu 🙆🙆 bisa follow Instagram. Nggak di kunci kok, aku mah orangnya biasa aja.

Instagram aku @styuyun

Seee.... di profil aku udah aku kasih tahu, kalau moto hidup aku itu :

Love to read. Love to write. Love you

 
 Seeee...... ada akun wattpad aku di situ!

Akun Wattpad aku @styuyun

Seperti judul omong-omong kali ini, aku bakalan pindahin Wattpad aku ke Blog. Kenapa? Karena udah ada adsense, babes.

Aku pindah ke Wattpad karena lebih banyak atau lebih cepat dapat reader. Mana aku tahu kalau ternyata blog itu ada adsense. Tapi setelah tahu dan sekarang lolos. Pengen tahu gimana caranya aku lolos? Ada di sini.

Karena lumayan ya, banyak yang bakalan baca (semoga) cerita aku, jadi aku mau pindahin aja ke blog. Lumayan kan kalau sehari ada berapa kali view.

Aku sih berharap semuanya pada unable adblock karena nanti kalau ada adblock nya, aku nggak dapat adsense. Kan lumayan kalau bisa jadi tambah-tambah penghasilan. Buat bayar cicilan rumah.

😂😂😂😂😎😎😎😎😎😎

Kalian yang mungkin bukan cuma seneng baca realitas drama, bisa coba baca cerita-cerita drama aku.

Hem... mungkin kapan-kapan aku bakalan bagiin PDF atau E-book gratis novel-novel aku.

Kalau ada yang baca dan suka ya alhamdulillah.... kalau enggak ya nggak papa.  
🙏🙏 Maaf ya, kalau nanti ada yang merasa terganggu. Bisa skip semua dan liat apa yang kalian mau. Aku udah bikin index nya kok. No worries.

Pilih yang pengen kalian liat

 OKAAAYYY.... sudah, gitu aja pengumumannya. Have a nice day 😙😙💖💖
 

COBA BACA YANG INI, DEH

Pengalaman Pertama Lolos Google Adsense Wow!

Hai, gimana kabar kalian? Baik? Ada yang berubah nggak dari blog aku? YAP, Sekarang ada IKLAN nya! Ih, kok sekarang ada iklannya sih?...

EH, BANYAK YANG LIHAT!