Monday, February 22, 2021

Perjalanan Kehamilan - Terlambat Haid dan test pack Positif

 Hai, 

Melanjutkan cerita di postingan sebelumnya tentang Perjalanan Kehamilan aku dan Suami.

Setelah daftar di Dokter Rahajeng untuk tanggal 10 Oktober 2020, aku menjalani hari biasa saja. Aku masih merasa haidku akan datang karena rasa basah-basah dan kayak ada yang lendir di daerah kewanitaan masih terasa. Dari tanggal 5 sampai tanggal 9, aku selalu melihat seksama sebelum pipis. Tapi tetap yang keluar itu warna kuning, tidak coklat. Dan di tanggal 10 Oktober 2020 pagi, aku usap lagi dan masih warna kuning. Padahal udah hari 32 di siklusku dan tanggalan di aplikasi Flo sudah mengatakan aku ini terlambat 1 hari.

Aplikasi Flo

Deg-degan dong. Ini pertama kalinya, si aplikasi bilang kalau aku terlambat. Padahal saat pertama kali aku Haid di hari 31, si aplikasi nggak bilang kalau aku terlambat. Aku masih belum berani test pack, takut kecewa dan takutnya siang hari malah keluar haidnya.

Aku dan suami pergi ke tempat Dokter Rahajeng, disana antri lagi. Sambil antri, aku masih berharap-harap. Bener nggak ya aku hamil? Lebih ke positif banget kalau aku hamil. Nggak tahu kenapa. Suami juga berharap. Sampai akhirnya, giliran aku masuk.

Aku cerita ke Dokter Rahajeng, aku sudah terlambat Haid dan ini hari ke 32 aku. Aku cerita juga kalau tanggal 5 Oktober, aku keluar coklat gitu. Akhirnya Dokter menyarankan di USG dulu. Waktu di USG, tidak terlihat apa-apa. Rahimku masih biasa saja.

DOWN. KECEWA. SEDIH.

Dokter Rahajeng menyarankan untuk coba test pack satu minggu lagi. Tapi tetap hati-hati selama masih menunggu. Kalau memang negatif, Dokter akan menjadwalkan pertemuan supaya memperbaiki siklus haidnya.


Aku keluar dan mengabarkan ke suami kalau nggak ada tanda-tanda aku hamil kayak penebalan rahim atau apapun itu. Padahal kan setidaknya sudah ada penebalan rahim. Suami ikut sedih tapi tetap lebih kuat untuk meyakinkanku kalau apapun yang terjadi, nggak papa.

Aku menjalani hari dengan perasaan deg-degan. Apalagi hari demi hari kok masih nggak keluar indikasi kalau mau Haid. Akhirnya aku kalah dengan perasaan penasaran. Hari Senin, tanggal 12 Oktober 2020 aku beli test pack dan mencoba langsung meskipun sudah jam 9 pagi.

Aku tunggu... tunggu... tiba-tiba, keluar dong garis kedua. Masih nggak jelas, tapi terlihat tanpa perlu di taruh dibawah sinar lampu. Di Fotopun kelihatan. UWAAAAAAAAA

Test Pack Dua Garis

Rasanya seneeeeng banget, tapi masih tidak percaya juga. Tapi senang. Aku langsung WA suami yang saat itu masih kerja. Aku fotokan test pack nya dan berharap suami ikut senang juga. Aku sampai telepon karena nggak sabar mau suami tahu.

Tapi respon suami kayak ragu gitu di telepon. Apa iya? Itu udah pasti? Dulu pernah gitu juga kan? Samar-samar tapi ternyata enggak. Aku sedih saat dengar itu. Tapi setelah telepon berakhir, suami WA. Memberikan respon yang lebih positif. Bilang kalau coba test pack lagi minggu depan ya, tapi tetap hati-hati.

Aku yang masih belum yakin, nggak sabar lagi, akhirnya test pack lagi di tanggal 14 Oktober 2020. Kali ini pipis pertama di pagi hari. Aku harapannya, kelihatan lebih jelas dong ya. Tapi ternyata, lebih samar daripada aku yang test jam 9 pagi. SYOK!!!

Aku sediiih banget. Langsung bangunin suami yang masih tidur dan cerita. Suami bilang "Jangan terlalu percaya sama yang begitu". 

Emosiku langsung naik dong. "Ya kalau nggak boleh percaya terus buat apa ada test pack!!! "

Aku ngambek tuh sama suami. Nggak mau liat mukanya, nunduk atau lihat ke arah lain kalau diajak ngomong. Begitu lebih tenang, aku sadar maksud suami aku tuh aku jangan terlalu sedih dulu. Bisa aja salah kan.

Satu jam setelah aku tinggal, garis di test pack nya kok jadi tebel banget? Meski nggak setebal garis kontrol/garis pertamanya. Mau senang tapi nggak yakin. Soalnya kan bisa jadi penguapan gitu. Semakin bingung lah aku, nggak yakin tapi kok yakin. Hahaha.

Test Pack pagi hari yang setelah ditinggal 1 Jam

Aku sama suami niatnya ngasih tahu keluarga kalau sudah beberapa bulan gitu, supaya nggak bikin PHP. Tapi, tanggal 17 Oktober, itu ada acara keluarga mas dan sudah direncanakan memang dari bulan lalu. Selain itu, tanggal 30 Oktober acara di keluarga aku. Dengan ke khawatiran kalau nanti kenapa-napa karena masih hamil muda, aku dan suami sepakat untuk bilang ke kedua orang tua kami dan akhirnya kabar aku hamil diketahui keluarga besar. Hahaha.

Kami hanya bisa bilang kalau positif test packnya tapi masih samar dan belum USG lagi dan bilang maaf kalau nggak bisa ke acara keluarga karena takut nanti kecapekan karena masih sangat muda kandungannya.

Keluarga maklum semua, mereka juga ikut senang dan mendo'akan supaya baik-baik saja.


Kebetulan, sahabat aku juga sedang hamil, tapi dia 3 bulan lebih dulu hamilnya dan karena aku pengen tanya-tanya, akhirnya aku ngomong ke dia. Aku cerita soal garis test pack aku dan dia memberikan saran kalau mending beli test pack yang mahal juga. Untuk pembanding gitu.


Oke, karena sering liat youtube orang Amerika yang test pack, aku jadi tahu yang namanya Clearblue. Itu test pack sangat populer disana dan ada juga lho yang bisa deteksi minggunya. Akhirnya aku beli di shopee.

Test Pack Clearblue

Yakin, ini nggak bakalan ambigu kayak test pack biasa, karena nggak perlu menerka-nerka, sudah dikasih tahu dengan kata oleh test packnya. Tanggal 19 Oktober testpacknya datang, dan tanggal 20 Oktober pagi, aku test. Mahal, jadi harus yakin banget pagi ambil air kencingnya.


Hasil Test Pack Clearblue

Setelah keluar dengan jelas tulisan 'Pregnant' dan 3+, aku jadi lebih yakin dan merasa sudah saatnya ke dokter. Ya kaaan. Sudah lebih dari 3 minggu lho.


Akhirnya aku, tanpa bilang suami karena niatnya sih mau ngasih kejutan gitu, Bawa hasil USG yang sudah kelihatan kalau lagi hamil, pergi ke RSIA Melati Husada untuk periksa. Disana, ketemu dengan dokter Nany Nita.





Friday, November 13, 2020

Perjalanan Kehamilan - Program Hamil

Hai,

Alhamdulillah, di umur pernikahan kami yang berjalan 1 Tahun 4 Bulan, Allah mengizinkan aku dan suami untuk hamil. Seperti pengalaman lain, aku ingin mendokumentasikan juga perjalanan kehamilan aku .

Oke. Aku mulai di bulan Agustus, saat usia pernikahan kami sudah 1 Tahun 2 Bulan. Kami yang rutin bergumul dan tidak pernah berpisah selama 1 Tahun 2 Bulan, merasa sudah saatnya kami PROMIL (Program Hamil) dengan serius. Dokter pun biasanya akan menanggapi lebih serius karena sudah lebih dari 1 Tahun menikah.

PERGI KE DOKTER UNTUK PROGRAM HAMIL

Kami pergi ke Dokter Rahajeng yang prakteknya ada di Jl Pahlawan Trip, Kota Malang. Meskipun sedang pandemi, dokter Rahajeng masih praktek dan tetep ya, antriannya panjaang. Aku memilih di Dokter Rahajeng karena katanya sih bagus disitu. Tapi harus siap-siap ngantri ya, dan sudah reservasi tiga hari sebelumnya.



Yang terjadi saat pemeriksaan di Dokter Rahajeng:

1. Aku ditanya, apakah siklus haid ku normal? Siklus haid ku bisa dibilang normal, karena tiap bulan pasti haid, hanya saja sering mundur atau kadang maju. Sekitar 28-31.

2. Aku di USG, dilihat apakah ada kista atau yang lainnya. Hasil USG menunjukkan rahimku bagus, tidak ada kista ataupun hal tidak lazim lainnya. Alhamdulillah.

3. Aku ditanya, apakah keputihan? Aku memang sering keputihan sejak SMA. Tapi setelah menikah, keputihannya itu waktu mau dapet atau waktu ovulasi. Dibagian keputihan ini, aku pernah mendengar ada yang nggak bisa hamil karena terhalang oleh keputihan. Disini aku deg-degan juga. Akhirnya, Dokter Rahajeng meresepkan untuk keputihan. Kebetulan, aku mau haid saat datang ke Dokter. Obat untuk keputihan itu, aku diminta untuk minum hari itu juga dan habis tepat saat aku haid.

4. Dokter mengatakan, untuk Promil, langkah awalnya seperti ini dulu. Nanti setelah haid ke dua atau ketiga di bulan Oktober, aku diminta datang lagi untuk langkah Promil selanjutnya.

Aku minum obat yang diberikan Dokter dan juga mulai makan Plain Yogurt

PROMIL : SARAPAN PLAIN YOGURT DAN GRANOLA

Aku tahu soal Plain Yogurt itu dari Selebgram Ririe Prameswari. Dia sering sekali update sarapan Plain Yogurt dengan buah atau granola dan dia pernah bilang, kalau Plain Yogurt ini sangat dianjurkan kalau ingin mengatasi masalah keputihan oleh dokter kandungannya.

Seperti sebuah takdir, Ririe membahas tentang Plain Yogurt saat aku merasa mungkin memang keputihan ini yang menjadi masalah. Akhirnya aku bilang ke suami, aku pengen diet (aku juga merasa aku semakin gendut beberapa bulan terakhir) dan menceritakan soal manfaat Plain Yogurt. 

Setelah Haid bulan Agustus, Kami pergi ke Ranch Market, tempat dimana Ririe beli Plain Yogurt dan Granola. Padahal di Hypermart atau mart besar lain juga ada. Hahaha.

Untuk Plain Yogurt, aku pilih yang BIOKUL.

Untuk Granola, aku pilih kayak punya Ririe.

Plain Yogurt aku beli yang 500ml. Harus rajin dimakan, karena daluarsanya cepet banget dah. Sebulan apa sebulan setengah gitu. Sedangkan granola, aku pilih kayak punya Ririe karena nggak tahu per granola-an. Untung waktu itu di ranchmarket lagi diskon. Tapi ya lumayan jadinya, untuk sekali beli habis sekitar 100ribuan.

Besoknya, aku dan suami mulai sarapan Plain Yogurt dengan granola atau kalau ada buah ditambah dengan buah. Suami aku itu memang orangnya pengen bareng-bareng. Kayak, mau menemani aku di setiap langkah gitu. Kalau bisa dia jalanin, ya bakalan di jalanin. I love you Suami 💖

Tapi satu minggu diet Plain Yogurt dan Granola, suami malah mencret-mencret. Mungkin karena suami aku memang siklus pup nya udah lancar ya, jadi semakin lancar sehingga tidak terkontrol. Akhirnya suami aku berhenti diet Plain Yogurt, aku masih lanjut sampai beli beberapa cup Plain Yogurt dan beberapa granola yang harganya uuu~~~ tidak murah.


APAKAH PERNAH MENCOBA PROMIL LAIN?

Kalau bertanya kepada semua wanita yang berniat punya anak, tentu jawabannya adalah SUDAH!

1. Minum asam folat, aku sudah pernah melakukan itu dua bulan setelah menikah dan akhirnya berat badanku naik tak terkontrol. Aku berhenti setelah dua bulan.

2. Makan kecambah. Setelah tiga bulan tidak hamil, aku dan suami sepakat untuk mencoba makan kecambah. Aku selalu memasukkan kecambah sebagai belanja mingguan dan memasukkan kecambah disetiap masakan. Sop, ada kecambahnya. Oseng, ada kecambahnya.  Apa ajalah, kecambah bisa dimasukkan, aku masukkan.

3. Minum madu dan polen. Ini memang nggak rajin sih, soalnya harus diminum 1jam sebelum HB. Masalahnya, aku merasa HB yang terjam gitu membuat jadi nggak nyaman. Apa ya, kegiatan yang seharusnya untuk senang-senang dan bonding dengan suami, kok jadi kayak harus di waktuin. Cuma minum 4 kali. Setelah itu nggak lagi.

4. Suami minum madu. Iya, suamiku juga usaha. Ini madu kayak untuk kekuatan gitu. Meskipun aslinya nggak perlu #EH. Cuma minum 3 kali kayaknya. Sama kayak madu dan polen itu, nggak enak banget harus di kasih jam.

5. Olahraga dan bobo sebelum jam 10 malam. Ini paling konsisten sih. Suamiku kan hobi main game, dan kalau udah sama temennya, bisa sampai tengah malam baru selesai. Nah, kita sudah berjanji untuk senin-kamis dan minggu, suamiku harus bobo maksimal jam 10.


Baik, kita lanjutkan ceritanya.


Datanglah haid bulan September, tapi bulan itu, aku malah haid di hari ke 27. Padahal sebelumnya, mundur itu pasti, maju itu tidak mungkin. Oke. Aku masih lanjut Diet Plain Yogurt dan Granola. Rasa yang awalnya asem banget dan nggak enak itu, sudah mulai enak di mulutku. Untuk keputihan, sepertinya nggak ada perbedaan. Hahaha. Tapi ya namanya usaha, nggak langsung berhasil juga kan. Toh bisa membuat tubuh jadi bagus juga dengan Plain Yogurt.

September berlalu, masuk bulan oktober. Seminggu sebelum dapet, seperti biasa, kalau mau dapet, pasti ada rasa-rasa basah dan kayak ada lendir gitu di kewanitaan. Aku udah pasrah lagi nih. Ya sudah nggak papa. Toh memang sama Dokter Rahajeng disuruh balik bulan Oktober.

Tanggal 5 Oktober, aku ke kamar mandi dan colek gitu. Ternyata ada kuning dan coklat. Padahal hari itu baru hari ke 26. Tapi karena bulan lalu aku dapet di hari 27, aku ngira kayaknya memang dapet hari itu.

Aku WA suami dan bilang kalau aku dapet dan sudah waktunya menjadwalkan ke Dokter Rahajeng. Tapi ternyata, jadwalnya dokter Rahajeng itu nggak ada yang pas dengan jadwal aku kerja. Aku bingung dong, kalau nggak pas sama jadwalnya terus gimana. Akhirnya aku pakai konsultasi dokter online. Aku tanya, kalau kuning yang ada coklatnya itu udah masuk haid atau belum. Ternyata dokternya jawab belum termasuk haid. Kalau sudah nambah coklatnya atau coklat semua, itu baru haid. Oke.

Aku bilang sama suami dan sepakat kalau aku belum haid saat itu. Tapi aku tetap jadwalin ketemu sama Dokter Rahajeng di hari Sabtu, tanggal 10 Oktober 2020. Karena perkiraan haid normalku di tanggal segitu.


Sunday, October 4, 2020

Rasanya Memiliki Hutang

Hai!!!  

Hari ini aku akan membahas tentang keuangan lagi. Lebih tepatnya soal memiliki HUTANG. 💳


AWAL MULA 😎

Perjalanan berhutangku dimulai 2 tahun yang lalu. Aku mulai berhutang di tahun 2017 untuk biaya kuliah adek aku. Setelah itu ditahun 2018 nambah utang untuk membeli rumah. 

Saat pertama kali berhutang, aku nggak merasa berat karena toh setelah membayar cicilan, aku masih bisa makan enak, beli ini dan itu. Pokoknya nggak ada beban sama sekali.

Atau sebenarnya, berusaha untuk nggak memikirkan itu.


KERESAHAN 😟

Setahun berlalu, aku merasa kerja itu nggak nyaman. Kayak, aku kerja bukan cuma karena aku suka, tapi karena aku harus bayar cicilan. Merasa hidupku ini benar-benar dipengaruhi oleh cicilan yang harus aku bayar. Apalagi, begitu gajian, 40% gajiku langsung menghilang untuk bayar cicilan. Kayak, hampa gitu.

Diperparah dengan pengetahuan soal berapa sebenarnya pokok hutang yang aku bayar. Jadi, di bank tempat aku berhutang, aku bisa mendapatkan informasi tentang berapa sisa pokok hutang yang masih aku miliki melalui internet banking. Syok sekali! 

Dari cicilan sebesar 40% gajiku itu, hanya 30% yang menjadi pengurang pokok hutang. 70% Sisanya? Bayar bunga! 

GILA!! GILA!!! Padahal, kalau aku menabung semua cicilan itu, yang dari jangka waktu 13 tahun, cukup dengan 4 tahun kekumpul!


MENCOBA KELUAR DARI HUTANG 😤

Nggak ingin terlena dengan syok serta kesedihanku, aku mulai membaca, menonton dan mendengarkan semua tentang personal finance. 


Banyak orang diluar sana ternyata senasib dan mereka berjuang untuk melunasi dengan cepat hutang-hutang mereka. Caranya? BERHEMAT! Frugal Living!


Disaat aku memantapkan niat, disaat itu pula alhamdulillah gaji aku naik. Jadi cicilan yang awalnya menghabiskan 40% Porsi gajiku berubah menjadi 36%. Oke. Aku berhitung-hitung. Dari 100% gajiku, 36% untuk cicilan, 39% aku tabung untuk pelunasan percepat. Sisa gaji 25% aku gunakan untuk biaya hidup sehari-hari.

Setelah menikah, 25% itu terasa lebih nyaman karena untuk listrik, air, wifi di rumah ditanggung suami. Suami juga menanggung makan yang dimasak dirumah dan kebutuhan rumah tangga lain. Kalau aku pengen beli baju, sepatu dan makeup, itu juga ditanggung suami. 25% itu untuk aku transportasi, makan siang, pulsa, jajan cantik, kadang beli-beli hal diluar kebutuhan supaya tetap senang. Hahaha. Yang pasti, hikmah yang dapat diambil dari aku memiliki hutang ini adalah:

AKU NGGAK MAU HUTANG LAGI! SENGSARA LAHIR DAN BATHIN!


MY TALK FOR YOU

Jadi, kalau kalian sedang ada di fase yang bingung mau hutang apa enggak. Aku sarankan, jangan hutang banyak-banyak. Umpamanya mau beli rumah nih, kalian siapin aja DP yang banyaaak biar kalian hutangnya Cuma sedikit.

Ah.. segitu aja ya share pengalaman dari aku. Semoga bermanfaat. Bye-bye.


Tuesday, January 14, 2020

Template Dana Darurat Sederhana Gratis!

Hai! Apakabar!

Kali ini, aku mau share Template sederhana yang aku gunakan untuk mencatat Dana Darurat aku.

Dana Darurat itu apa sih? 


"Singkatnya, Dana Darurat itu, uang yang digunakan waktu kita mengalami keadaan penting dan gawat yang tidak terduga."


Ingat ya, 'PENTING' dan 'GAWAT'. Kalau mau beli tiket konser karena band kesayangan manggung, itu bukan 'Gawat'. 😖 Kalau mau renovasi rumah tapi sebenarnya masih oke, itu bukan 'Gawat' juga. 😖 Tapi kalau HP kalian kecolongan, itu bisa pakai Dana Darurat 👍

Lebih lengkapnya, kalian bisa liat di instagram-instagram pada penggiat personal finance awareness. Salah satu Instagram yang aku ikutin itu, JOUSKA dan ZAP Finance. Pernah aku bahas juga di post sebelumnya.


Nah, supaya lebih berasa progressnya, aku bikin chart atau perkembangan berapa uang yang udah aku kumpulkan untuk Dana Darurat. Kebetulan, tadi aku searching gitu kan, ketemu gambar lucuk infografis yang bisa menjelaskan singkat apa soal Dana Darurat dari website https://ilovelife.co.id/ lebih lengkapnya, kalian bisa klik di sini : https://ilovelife.co.id/blog/serba-serbi-dana-darurat-yang-harus-anda-alokasikan/

Abis itu, aku gabungkan dengan tabel di MS Word. Jadinya begini:


template Dana Darurat


Nah, buat kalian yang pengen buat gitu juga, aku share Template buatanku secara gratis disini:

https://drive.google.com/drive/folders/1zxinqpjE3wVzlPnm6pFx3d6gzqPihm1S?usp=sharing

Kalian bisa Edit kok, di sesuaikan dengan keinginan kalian. Kalau pas ngisinya, atau menghitamkan kotaknya, aku saranin pakai pensil aja, karena pada dasarnya kan memang Dana Darurat itu bisa kepakai dan bisa diisi lagi.

GOOD LUCK! Bye Bye~~~




Wednesday, January 1, 2020

3 - Hidup itu drama picisan

Hidup bergantung pada alam membuatku selalu menerima apapun yang terjadi diluar kontrol manusia. Di saat bergembira akan panen tapi tiba – tiba ada hujan deras, angin besar atau serangan hama yang membuat panen gagal, kami hanya bisa menerimanya dan bersiap untuk tanam selanjutnya, mencari keberuntungan selanjutnya. Namun aku tidak yakin akan datang keberuntungan selanjutnya setelah Om Andra. Aku sudah terlalu lama menyerah saat dia datang di hidupku.
Pipi dan ujung bibirku masih perih, Kesha memakai cincin saat dia menamparku jadi rasanya lebih sakit daripada tamparan Ibu meskipun intensitasnya sama. Aku tahu ini akan terjadi, dia tidak akan mengerti bahwa di dunia ini ada seseorang yang mendambakan sosok ayah bukannya om – om genit. Dia tidak menerima konsep hubungan platonik antara teman – ah, aku bukan temannya lagi ku kira mengingat dia memanggilku lonte – dan Ayah-nya.
Kembaranku meneteskan air mata, air mata yang sama yang membuat pandanganku kabur tapi aku masih bisa melihat matanya yang sudah tidak bercahaya lagi. Aku melihat mata yang sama sebelum bertemu Om Andra. Mata yang tidak berani berharap, tidak berani bermimpi dan pasrah bahwa tidak akan ada sosok yang diimpikannya. Dia terus mengeluarkan air mata tanpa suara. Aku tahu kenapa, karena akupun tidak memiliki hal yang ingin aku protes, yang ingin aku teriakkan pada dunia. Air mata ini hanya tanda penerimaan pada perubahan, sebuah bentuk kepasrahan. Aku duduk, bersandar pada rangka ranjang yang terbuat dari besi dan menunggu sampai alirannya berhenti.
“Daah Rin”
“Hati – hati Bu” Aku melambai pada Bu Wido yang dibonceng suaminya.
Aku menarik tali tas keatas, lalu berjalan dengan kaki yang berusaha keras menahan tubuhku yang lelah. Jam 9 malam jalanan Surabaya masih ramai tapi entah kenapa kendaraan umum tidak segera muncul diantara kendaraan pribadi yang melintas. Aku mendongak, melihat langit hitam yang pesona bintang-nya tidak terlihat karena tertutup warna abu – abu gelap awan. Aku berharap semoga angkot atau bis segera datang karena mungkin saja sebentar lagi hujan. Sudah hampir tiga bulan cuaca tidak menentu, kadang hujan deras, kadang panas membakar, kadang di siang hari terik dan di malam hari hujan.
Haaah.... tanpa sadar aku menghela nafas lagi memikirkan cuaca ini karena aku jadi teringat dengan masalah yang sedang terjadi di rumah. Mas Alfa dan Mas Alvin berencana menanam melon karena prediksi mereka akan terjadi kemarau tapi setelah tanam dan perawatan satu minggu, hujan deras turun, menenggelam-kan melon – melon. Mas Alfa dan Mas Alvin tidak memberitahuku, mereka tidak ingin aku berfikir macam – macam dan konsentrasi pada kuliah. Aku tahu kabar ini dari Mas Aan yang menanggung biaya hidupku sementara ini karena keuangan di rumah sedang tidak stabil.
Mas Alfa dan Mas Alvin memang selalu bertanggung jawab pada keluarganya, mereka bahkan memberi Mas - Mas yang lain uang dari hasil sawah berapapun itu. Jika mereka sampai meminta bantuan dari adiknya, itu berarti keadaan di rumah memang tidak bagus itulah kenapa aku  mulai mencari pekerjaan seminggu yang lalu, menjadi asisten chef di restoran yang buka sampai subuh ini. Untung saja di fakultasku belum ada kebijakan Magang atau PKL, hanya ada studi kelayakan bisnis. Aku mendapatkan shift dari jam 4 sampai jam 9 malam. Setelah itu aku digantikan Rendy yang nanti bekerja sampai tutup.
Badanku mulai bergerak – gerak tidak nyaman setelah setengah jam menunggu dan tidak ada angkutan umum yang melintas padahal angkutan umum hanya beroperasi sampai jam 10 malam. Itu artinya aku harus naik taksi dan naik taksi tidak murah, rasanya jadi percuma jika uang part time-ku harus digunakan untuk membayarnya. Do’a khusyuk memanggil angkutan terganggu saat sebuah mobil hitam besar tipe SUV berhenti di depanku, menghalangi pandangan. Aku akan menyingkir saat kaca hitam legam turun dan namaku di panggil.
“Arini”
Aku melihat ke dalam dengan ragu – ragu dan menemukan wajah yang hampir kulupakan meskipun seharusnya wajah tampan itu tidak mungkin terlupa tapi aku saja lupa makan jadi wajar.
“Pak Sebastian?”
“Hai. Kamu mau pulang?”
“Iya Pak”
“Masuklah, aku antar”
Aku melihatnya tidak yakin. Kami memang beberapa kali bertemu saat aku bersama Om Andra tapi tidak pernah ada percakapan pribadi diantara kami, bahkan dia terlihat tidak peduli padaku. Jadi rasanya sangat janggal kalau dia sampai menawarkan tumpangan padaku.
“Terimakasih tawarannya tapi saya bisa sendiri” jawabku sopan.
“Kenapa? Sudah ada yang menjemputmu?” tanyanya seakan yakin sekali ada yang berminat menjemputku malam – malam begini kecuali supir angkot tentunya.
“Tidak ada. Saya naik angkot”
“Memangnya masih ada malam – malam begini?”
“Semoga saja. Selamat malam” aku memberinya anggukan hormat kemudian menyingkir dari mobil itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa tidak nyaman lama – lama berhubungan dengan lelaki itu.
Mobil itu tidak kunjung bergerak, malah pintu bagian kemudi-nya terbuka dan lelaki penting itu turun. Dia memakai pantalon dan kemeja yang ketat, tidak ada dasi dan jas. Aku hanya terdiam saat dia menghampiriku. Mau apa dia?
“Sebentar lagi hujan”
Aku mengerutkan kening, menatap langit yang memang semakin pekat dan petir kecil mendukung perkataannya.
“Um... sepertinya”
Wajahnya berkedut kecil, aku sudah terlatih untuk memperhatikan orang lain secara mendetail jadi aku tahu dia sedang kesal pada jawabanku dan itu semakin membuatku bingung. Kenapa?
“Kesha mencari data di perusahaan, kenapa kamu tidak ikut dengannya?”
Cubitan perih muncul di dadaku, “Lebih baik mencari di perusahaan berbeda agar lebih bervariasi”
“Bukan karena hubunganmu dan Pak Andra yang sudah diketahui Kesha?”
Sakit hati, takut dan malu menyerangku bertubi – tubi, membuat jantungku berpacu cepat sampai terasa pusing.  Bagaimana dia bisa tahu?
“Kesha bercerita padaku saat dia mencari data” Lelaki tersenyum miring, senyum yang membuatku ingin menamparnya dengan keras padahal aku sangat membenci kekerasan “Aku salut padamu, kamu bisa bermain sangat lama, tepat di bawah hidung Kesha dan tidak ada yang curiga”
Dia memang terlihat sangat memujiku tapi aku tidak ingin mendapatkan pujian seperti itu. Aku mengeratkan kepalan tanganku, menahan agar tidak melayang di wajah tampannya yang arogan. Demi tuhan, umurnya 35 tahun, bukankah di umur itu manusia lebih mawas diri? Lebih bijaksana? Dia seharusnya sudah bisa mengayomi seorang anak tapi saat ini dia lebih seperti remaja SMA labil yang tidak memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa dia menyinggungku seperti ini saat aku tidak memiliki masalah dengannya.
Aku mencari ponselku dan memesan taksi. Aku ingin segera pergi dari sini, pergi dari makhluk menyebalkan yang tidak punya simpati. Jenis makhluk yang paling aku benci. Ukh, aku tidak pernah dengan mudah mengeluarkan kata benci karena benci memiliki makna yang dalam tapi lelaki ini memang sangat keterlaluan. Aku tidak salah kan.
“Kabur?” tanyanya dengan nada yang membuatku ingin menonjoknya.
Aku memejamkan mata, menggeratkan rahangku, menahan emosi yang bergejolak. Kenapa kamu berfikir kekerasan lagi Rin, kamu bukan gadis seperti ituKamu benci kekerasan. Ingat itu.
“Aku hanya memberi salam, selamat malam” katanya dengan keramahan yang terdengar sangat palsu di telingaku.
Aku tidak membalasnya karena terlalu kesal. Bunyi kendaraannya yang menjauh membuatku semakin lega, setidaknya aku akan berhenti menjadi sesuatu yang aku benci. Taksi yang kupesan datang dan di belakangnya ada angkot yang sangat aku tunggu sejak tadi. Aku sudah terlanjur membuka pintu taksi dan tidak mungkin aku menutupnya lalu masuk angkot. Rasanya dadaku bergelak marah lagi, jika saja lelaki rese itu tidak datang dan membuatku kesal aku bisa naik angkot dan menghemat 20 ribu. Uuurggghhh....
Aku mengerjapkan mata saat dunia terasa bergoyang. Gempa Bumi? Tanganku refleks memegang kepala yang terasa akan copot dari tubuhku. Mual tiba – tiba mendera, membuat kerongkonganku berkontraksi ingin mengeluarkan sesuatu yang asam. Aku segera mencari selokan terdekat dan memuntahkan yang ternyata tidak seheboh bayanganku. Aku memang belum makan apapun sejak jam 2 tapi aku sudah bisa tidak makan sampai selama ini jadi kenapa aku harus sampai seperti ini sakitnya dan tiba – tiba, tanpa ada peringatan sebelumnya. Aku masih menunduk, memuntahkan udara yang tidak membuatku semakin baik. Aku sadar, aku harus menyelamatkan diriku sendiri bagaimanapun caranya.
Aku mengambil ponsel dan memanggil taksi, aku harus segera pulang ke kos. Mungkin aku hanya butuh istirahat dan teh hangat. Aku bersandar di tiang listrik di dekatku, menahan agar tidak terbawa oleh ketidak sadaran yang sangat menggoda karena mempertahankan diriku agar tetap sadar terasa begitu sakit, menusuk – nusuk mata dan kepalaku.
Bertahan Arini, kamu tidak boleh pingsan di sini. Akan sangat merepotkan. Tahan sampai taksinya datang.
Sebuah mobil berhenti di depanku yang sekarang tidak bisa jelas melihat karena semua berputar – putar semu. Aku meraih pintu dan memasukkan diriku kedalamnya, lalu semuanya terasa damai, tidak ada rasa sakit lagi.
Aku bangun disambut dengan rasa sakit dan kaku di tangan kananku, tidak ada rasa pusing dan mual yang membuatku kalah. Sepertinya memang hanya butuh istirahat. Aku menghela nafas lega, mungkin lambungku yang bermasalah mengingat aku memang malas makan setelah berpisah dari Om Andra. Menggelikan memang tapi mau bagaimana lagi, otakku terkalahkan oleh hatiku yang sedang memiliki masalah.
“Anda sudah bangun?”
Aku membuka mataku saat mendengar suara asing yang terdengar sangat formal. Aku bukan hanya menemukan sosok asing tapi juga tempat asing yang terlalu mewah untuk menjadi kamar kosan. Ini seperti di kamar hotel yang sering aku lihat di TV tapi tidak mungkin pelayan hotel memakai pakaian suster rumah sakit. Dia membawa nampan yang tidak salah lagi berisi suntik dan botol obat kecil.
“Syukurlah anda sudah sadar, saya akan menyuntikkan obat dulu. Tuan Sebastian pasti senang mendengar anda sudah siuman.” Katanya dengan ramah lalu melakukan prosedur standar menyuntikkan obat di infusku yang terasa perih setelah merasakan cairan itu mengalir di pembulu darahku.
“Anu... tadi suster bilang Pak Sebastian?”
“Iya. Beliau tidak bisa menunggui anda dan meminta kami untuk mengabari beliau jika anda siuman.”
“Bagaimana bisa saya di sini?”
Suster itu masih tersenyum, “Anda datang kemarin malam, anda pingsan saat Pak Sebastian membawa anda. Asam lambung anda sangat tinggi, nona.”
Aku mengangguk dan menatap langit – langit berwarna putih yang bahkan terlihat begitu mewah. Aku mengerti apa yang dikatakan suster itu tapi aku menolak menerima apa yang otakku proses dari penjelasannya. Terlalu tidak masuk akal. Mungkin aku hanya bermimpi. Pasti begitu. Lebih baik aku tidur lagi.

Monday, December 30, 2019

2 - Dekaplah apa yang sudah kamu miliki, seperti apapun pahitnya karena ada lebih baik dari tiada

Aku tahu ini terlalu berani tapi tidakkah aku punya hak untuk merasakannya meski hanya sedikit. Dada bidang untuk menampung tubuhku dan lengan besar yang menangkupku. Badannya menjadi kaku karena aksiku tapi kemudian menjadi luluh lalu memberiku kehangatan seperti yang ada diangaku. Aku memejamkan mata, menikmati mimpi yang kuciptakan sejak pertama kali aku melihatnya. Namun aku tahu seindah apapun ini, aku tidak bisa menapakinya karena ini seperti awan yang menghilang jika kau sentuh. Aku melepaskan pelukanku perlahan, tidak rela namun harus.
“Ada apa Rin?” tanya Om Andra lembut
“Nggak apa – apa” jawabku bohong dan Om Andra tertawa mengetahuinya
“Arini, Arini, Om ini punya 2 anak perempuan dan satu istri. Om tahu kalau perempuan bilang nggak apa – apa, artinya apa – apa. Jujurlah sama Om, Apa? Masalah cowok?”
Aku menggeleng. Suara dan tatapannya padaku membuatku ingin mengungkapkan semuanya seperti setiap kali kami bertukar kabar tapi aku takut dia akan membenciku.
“Ada apa?” tanyanya lagi lebih menuntut jawaban
“Aku nggak pengen ke Amerika Om”
Air mataku menetes deras setelah mengatakannya, sungguh, aku tidak ingin mengeluarkannya. Otakku sudah memerintah mulutku untuk tidak berkata tapi hatiku terlalu lelah, terlalu penuh dan ingin mengeluarkan semuanya, membaginya dengan seseorang yang dia percayai.
Om Andra mendorong bahuku turun perlahan, membuatku duduk di sofa “Ceritakan semua dari awal Rin”
Aku menceritakan soal ayahku, dimana semuanya berawal. Ayah yang aku ingat adalah sosok pria besar, tinggi, berbicara denganku lebih sedikit dari Ibu dan Mas-Masku. Masku ada 5 dan semuanya lelaki, mereka kadang menyebalkan tapi kadang juga menyenangkan, menggendongku, mengajak main kadang membagiku kola-kola (coca-cola) mereka. Minuman itu mengerikan rasanya, terasa geli dimulut dan rasanya pahit aku tidak tahu kenapa mereka harus sampai menabung untuk membelinya. Aku lebih suka rasa susu yang melumer dilidahku dan mendapatkan buku cerita baru setiap kali Ibu membeli kotak baru.
Ayah selalu mengendarai mobil berwarna hijau yang membuatku bangga. Hanya Ayah yang punya mobil itu dan aku suka setiap kali menaikinya. Ibu akan memangkuku dan aku bisa melihat pohon dan rumah berlarian di depanku. Ayah selalu berangkat saat aku sarapan, ayah selalu memakai celana panjang, kemeja berwarna putih dan tas kotak berwarna hitam yang tidak boleh aku sentuh. Ayah akan menarik tasnya saat aku menyentuhnya. Namun sore hari itu, aku tidak mendengar deruman mobil hijau Ayah. Tidak ada jejak ban lucu yang menggiling tanah halaman depan rumah padahal jejak pagi hari sudah hilang. Jejak ban lucu kesukaanku tidak muncul esok sorenya, sorenya, dan sorenya lagi begitu juga Ayah dan tas kulitnya yang terasa enak setiap disentuh.
Ayah meninggalkan kami semua, keluarga yang dia bentuk sendiri. Kami tidak tahu kerena apa tapi kemudian surat PHK dari pabrik tempat ayah bekerja memberi kami alasan. Ayah bahkan membawa uang pesangonnya dan meninggalkan kami dengan apa yang ada. Ibu yang hanya ibu rumah tangga selama ini menjadi kalut, dia harus menghidupi 6 anak sendirian tanpa keterampilan. Ibu akhirnya ikut bekerja di sawah bersama keluarganya yang selama ini menjadi penyewa sawah. Mas Alfa, Mas Alvin, Mas Faisal dan Mas Aan ikut membantu Ibu sedangkan aku dan Mas Agha yang masih berusia 5 dan 7 tahun tinggal di rumah.
Keluarga kami menjadi gunjingan semua orang, bagaimana tidak saat kehidupan kami yang sempurna menjadi jatuh. Tetangga yang dulu selalu ramah pada kami jadi memincingkan mata curiga, mewaspadai jika kami mencuri. Ibu yang dulu selalu lembut, memeluk meski kadang menjewer sayang, kini menjadi keras karena keadaan. Kami sering kelaparan tapi Ibu tidak akan pernah menerima belas kasihan dari orang – orang dan akhirnya Ibu memutuskan untuk memberikan tiga masku ke keluarga jauh yang mampu dan ingin memiliki anak. Mas Faisal pergi dengan keluarga yang tinggal di Bandung, Mas Aan pergi dengan keluarga yang tinggal di Jakarta tapi kemudian pindah ke Amerika, Mas Agha pergi dengan keluarga yang di Kalimantan. Setelah kepergian ketiga masku itu, Mas Alfa dan Mas Alvin menjagaku lebih dari sebelumnya. Mereka merasa menyesal tidak bisa mempertahankan adik – adik mereka.
Ibu, Mas Alvin dan Mas Alfa bekerja sangat keras melakukan apapun yang bisa dilakukan. Saat aku kelas 2 SMP, kehidupan kami membaik. Warung kecil – kecilan Ibu semakin berkembang, sawah semakin produktif. Mas – masku mungkin tidak lulus SMP tapi mereka giat belajar dari pengalaman. Hanya aku yang tetap menjadi beban, aku selalu naik kelas dengan nilai mepet, Ibu selalu marah akan kebodohanku. Meskipun kehidupan kami membaik tapi Ibu tidak kembali menjadi Ibu yang sebelum Ayah pergi. Ibu tidak akan segan – segan memukul anaknya yang menurutnya salah.
“Tapi seperti apapun, aku sayang Ibu. Aku ingin berbakti pada Ibu tapi aku nggak bisa menjadi apa yang Ibu inginkan. Aku nggak akan sanggup. Apakah aku salah kalau ingin jadi guru TK?”
Selama keadaan berat itu, aku mendapatkan kasih sayang dan bimbingan dari guru TK-ku. Beliau seorang wanita yang sabar, baik dan mengerti aku. Itulah kenapa aku ingin jadi guru TK, aku ingin membantu seorang anak yang memiliki masalah seperti aku.
“Orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak mereka Rin. Mungkin kami terlihat memaksa kalian tapi kami hanya ingin kalian mendapatkan masa depan yang lebih baik dari kami. Jika Kesha ingin jadi guru TK, Om juga akan keberatan. Tapi salah jika Ibumu memukul hanya untuk menunjukkan keinginannya. Tidak ada seorang pun yang berhak dilukai. Kalian semua terluka dan kamu hanya anak – anak, itu tidak seharusnya terjadi.”
“Aku nggak keberatan tentang Ibu yang memukul kok” kataku yang entah bagaimana mengatakannya dengan suara ceria.
“Benarkah?”
Aku menggeleng dan terisak, “Aku ingin dipeluk Ibu. Aku ingin disayang Ibu seperti dulu”
Om Andra membawaku kepelukannya dan aku memeluknya erat. Om Andra tetap memelukku walaupun aku membasahi kemejanya dengan air mata. Aku mungkin keterlaluan tapi aku ingin menikmati ini, pelukan hangat seseorang yang bisa kuanggap sebagai pelukan seorang ayah.
“Maaf Pak”
Om Andra? Minta maaf ke siapa? Aku menggerakkan tubuhku, pipiku rasanya lengket pada kulit sofa. Mataku panas dan kepalaku pusing. Aku pasti menangis sampai ketiduran lagi. Jam berapa ini?
“Tidak masalah, lain kali saja”
“Sekali lagi maaf Pak”
“Kalau begitu saya pergi dulu”
Aku ingat suara itu. Suara Pak Sebastian. Dadaku mengembang bahagia karena Om Andra rela menolak Pak Sebastian demi aku, tentu aku merasa tidak enak tapi tetap saja aku bahagia menjadi prioritasnya saat ini.
Pintu kaca terbuka dan Om Andra muncul, dia tersenyum lembut padaku “Sudah baikan?”
Aku mengangguk malu, “Maaf Om, udah ngerepotin”
“Nah, Om juga sering ngerepotin kamu” katanya rendah hati. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehnya karena aku melakukan semuanya dengan senang hati.
“Jam berapa Om?”
“Jam 5”
Aku ternganga, “Ya ampun, aku tidurnya lama ya”
“Tidak apa. Mau pulang sekarang?”
“Iya Om”
“Makan dulu ya. Mau makan dimana? Om traktir”
“Terserah Om aja deh tapi bentar ya, aku mau beresin muka. Pasti jelek banget deh. Ngeri ya?” tanyaku sambil menyentuh pipiku. Aku memakai eyeliner waterproof tapi tetap saja, aku kan menangisnya entah berapa liter.
Om Andra tertawa “Bukan jelek, tapi lucu”
“Oooom.... jahat ahhh” aku cepat – cepat keluar dari ruangan Om Andra, mencari kamar mandi. Saat aku akan masuk kamar mandi wanita, Pak Sebastian keluar dari kamar mandi lelaki yang ada di seberang kamar mandi wanita. Aku mengangguk, memberinya salam hormat dan segera masuk, tidak ingin dia melihat tampang monster-ku.
Eyeliner waterproof-ku sedikit meluber, membuat berkas hitam di mataku, aku terlihat seperti tidak tidur berminggu – minggu. Mataku merah, rambutku berantakan, hidungku merah dan tidak ada bekas bedak ataupun blush on di wajahku. Hilang semua. Aku mencuci muka, membersihkan semua kekacauan itu, aku hanya memakai lipstik agar terlihat lebih segar. Om Andra mentraktirku makan malam di restoran seafood, selama itu Om Andra melucu, membuat hatiku jadi lebih enteng. Aku mengakhiri hari ini dengan indah setelah aku mengawalinya dengan hati yang terdesak, sesak.
Aku melepaskan seatbelt begitu mobil Om Andra berhenti di gang kosku, “Makasih ya Om”
“Sama – sama cantik. Istirahat ya”
“Iya. Um...” Kami saling bertatapan dan aku mengeluarkan keberanianku untuk mengatakan hal yang sangat penting “Andai Om benar – benar ayahku, aku akan menjadi anak paling bahagia di dunia” kataku dengan segenap hati. Aku merasa malu setelah mengungkapkan impianku padanya.
“Kamu nembak Om nih Rin? Om sih tidak keberatan punya satu putri lagi, apalagi yang pinter masak dan perhatian. Gimana kalau diadopsi saja?” tanyanya dengan wajah jahilnya.
“Om ih... jangan lebai deh. Aku masih punya keluarga. Meski aku nggak punya yang seperti Om tapi aku punya 5 kakak laki – laki yang gagah – gagah nggak tambun kayak Om”
Tangan Om Andra otomatis turun ke perutnya yang mulai membuncit karena jarang olahraga, “Yah udah bawaan usia tapi tetep seksi ini”
“Iiih.. seksi dari mana. Nanti diselingkuhin tante Tessa baru tahu rasa!”
“Oh.. tidak bisaa. Tidak ada yang tahan sama Tessa kecuali Om. Galaknya itu”
Aku menaik – naikkan alisku menggoda “Tapi cinta kaan..”
“Ya cinta lah” kata Om Andra tanpa malu – malu.
Om Andra mungkin orang yang suka bercanda dan agak gokil tapi dia selalu gamblang menunjukkan cintanya kepada keluarga. andai saja.

Tuesday, August 6, 2019

Alasan kenapa aku berhenti pakai CC (Kartu Kredit)

Hai,

Sebelumnya aku pakai CC BRI Touch dan menceritakannya disini. Dan diakhir 2018, aku secara resmi menghentikan pemakaian CC BRI Touch dengan melakukan penutupan kartu.

Kenapa?

1. Sudah bukan lagi kartu yang free annual fee. Di statement Desember 2018, ada pengumuman kalau per Januari 2019, kartu BRI Touch akan dikenakan annual fee kalau nggak ada kartu kredit BRI lain yang dimiliki.

kebijakan baru BRI Touch

  Aku langsung telepon CS dan menanyakan apakah kabar itu benar dan berlaku mulai kapan. CS bilang, kalau untuk aku baru akan kena tahun 2020. Tapi aku tetap ngerasa harus nutup saat itu juga. Jadi aku langsung mengatakan niatku. Sempat dibujuk untuk dinaikkan Limit nya tapi aku kekeuh. Dan Januari 2019, aku mendapatkan email yang memberitahu kalau aku sudah nggak punya CC BRI Touch lagi:

email dari BRI
 2. Aku merasa, aku nggak sanggup menahan diri.

Di postingan aku disini, aku sudah bilang kalau Kartu Kredit bukan untuk orang dengan emosi finansial lemah. Awalnya aku punya CC memang karena aku butuh diskonnya. Selain itu, setiap kali aku bayar kan ada cashback dari Tokopedia. Bisa aku buat untuk bayar listrik. Tapiii.... kan nggak selamanya juga ada barang yang butuh aku beli ataupun ada diskonnya.

Jadinya malah aku sering pakai CC untuk hal yang biasa aja. Intinya, emosi finansialku ternyata lebih lemah daripada yang aku fikirkan. Untungnya, Bae sering nyeletuk kalau CC itu kan utang.

Awalnya, ego aku menolak kenyataan kalau aku mulai kehilangan kendali emosi finansialku karena aku selalu membayar tepat waktu. Tapi akhirnya aku menerima bahwa aku nggak sekuat itu dan menghentikan pemakaian CC.

Setelah itu....

Beberapa kali terkena godaan CC lagi karena abis ini mau Renovasi, artinya butuh beli tegel dan sebagainya. Banner nya Depo Bangunan gedee banget kelihatan kalau pakai CC bisa dapat potongan tambahan 150ribu. Pengalaman sebelumnya, aku bisa dapat gratis 2 cat itu...

Abis itu, di kantor ada pegawai BRI yang menawarkan CC Business Card. Yang ini free annual fee tanpa embel-embel.

CC Bussiness Card

 Tapi aku nggak ngambil kesempatan itu. Aku bertekat untuk mengasah emosi finansialku lagi. Kalau masih suka kalap belanja yang nggak perlu atau karena di 'racun', aku nggak akan apply CC!

Love you, XOXO 

Friday, August 2, 2019

Cerita Persiapan Finansial Pertunangan dan Pernikahanku

Karena membuat postingan soal Renovasi Rumah, aku jadi teringat perjuangan saat menyiapkan uang untuk Pertunangan dan Pernikahan.

THE STRUGGLE IS REAL!!!!!

DISCLAIMER:
Tidak ada niatan untuk mengeluh ataupun tidak bersyukur atau bahkan dibilang pamer. NOOO! aku berniat share aja bagi kalian yang kebingungan seperti aku dulu.

Oke kita mulai dari Pertunangan. 

Aku dan Bae pacaran 1 tahun lebih 2 bulan sebelum akhirnya melakukan pertunangan dibulan November 2018.

Acara ini nggak ribet karena pertunangan di desa aku itu, nggak macem-macem kayak acara pertunangan di kota-kota. Nggak ada tuh hiasan-hiasan atau harus beli baju baru dan MUA. Ketolong banget dengan acara pertunangan ala desa. Jadi cuma butuh tenaga manusia untuk masak buat keluargaku dan keluarga Bae. 

Seserahan dari Bae: Cincin Tunangan (untuk aku dan Bae), Buah, Jajan, Perlengkapanku (Kebaya satu set, Baju satu set, Baju tidur satu set, Pakaian Dalam, Alat Make Up, Alat Mandi, Tas, Sepatu, Sprei dan bed cover)

Setelah acara Bae ngelamar aku ke keluarga, di adat desaku ada yang namanya Balikan. Itu aku dan keluargaku mengunjungi rumah Bae untuk membicarakan kapan tanggal pernikahan dan acaranya. Ini ada adat untuk membalas seserahan yang dulu dibawa Bae saat melamarku. Nggak sebanyak yang dibawa Bae sih. Dan karena yang kesana cuma keluarga inti aku, jadi nggak nyiapin makanan, cuma harus bayar tol aja sih.

Seserahan balasanku: Buah, Jajan pasar, Baju (ini boleh baju aja tapi boleh pernak-pernik lain juga. Kayak aku pengen nambahin celana, sabuk sama sepatu).

💸 apprx. yang aku keluarkan 8.000.000

Sebelum tunangan, ada kejadian yang membuatku tergoncang baik secara mental, fisik maupun finansial. Tapi kita bahas soal Finansial aja ya.

Aku akan cerita soal bagaimana ekspektasi finansialku sebagai anak perempuan satu-satunya dari 4 bersaudara untuk masalah Pertunangan dan Pernikahan. Dari kecil, aku selalu diberitahu kalau:

"Orang tua bertanggung jawab terhadap pernikahan anak perempuan mereka. Kalau anak lelaki, ya dipersiapkan sendiri". 

Bahkan itu selalu digaung-gaungkan sampai aku dewasa.

Dan tiba-tiba, tepat sebulan sebelum acara pertunanganku, terdapat peristiwa yang membuat ekspektasiku hancur lebur. Secara finansial, orang tuaku nggak bisa menanggung biaya pertunangan dan pernikahanku.

Stress. Pasti. Ingin rasanya marah, tapi marah pada siapa?

"Saat terjadi hal yang berat, sangat berat dan membuatku tidak tahu harus melakukan apa dan putus asa. Aku menyerahkan diriku pada Allah, selalu ingat untuk bersyukur dan bangkit serta berusaha"
Untungnya, aku masih punya tabungan dan kutambah dengan uang yang aku sisakan untuk membayar Notaris (akte kepemilikan rumah masih balik nama waris, belum balik nama ke aku, jadi aku belum harus bayar). Aku pinjam uang itu dulu, berharap nggak harus dibayarkan dalam waktu dekat.

Aku menghitung-hitung kemampuanku dalam mengumpulkan uang. Sebanyak apa dan harus bagaimana. Dari bulan Desember, aku mulai mengetatkan ikat pinggang. Makan hanya untuk sarapan dan makan siang/makan malam. Menyisihkan 90% sisa pendapatan (setelah dikurangi cicilan rumah) untuk biaya pernikahan.

Berhutang? NO! BIG NO!

Salah satu Post Jouska tentang Wedding Disaster

Di IG Jouska, aku membaca ada pasangan yang harus berhutang demi membiayai pernikahan mereka dan setelah menikah, masih harus membayar utang-utang. 

Kasus terdekat adalah Kakakku sendiri. Kakak Iparku yang cerita kemudian memberikan wejangan kalau jangan sampai berhutang untuk pernikahan karena rasanya akan sangat menyedihkan. Harus membayar berbulan-bulan untuk acara semalam saja.

FIX. Aku nggak akan pernah mau berhutang untuk pernikahanku.

Setelah menghitung, akhirnya aku sampai pada angka 50.000.000, 7 Bulan mengencangkan ikat pinggang. Berharap uang THR juga. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa mengumpulkan uang 42.000.000

Aku memberitahu keluargaku, berapa uang yang aku punya. Terjadi perdebatan, katanya aku nggak akan bisa membuat acara pernikahan dengan uang hanya sebesar itu karena tamu yang diundang banyak. Untuk makan saja mungkin tidak cukup.

Penyakit yang paling berbahaya: Gengsi

Dimasa itu, aku harus kekeuh, keras, memberitahu orang tuaku kalau aku nggak ingin acara yang besar kalau harus mengeluarkan biaya lebih dari apa yang aku punya. 

Kalian bisa bilang kalau aku 'durhaka' dan nggak mau membahagiakan orang tua. Please, aku nggak peduli omongan kalian soal itu.

Dengan bertanya pada Kakak Ipar dan Calon Kakak Ipar serta browsing, akhirnya aku membuat List Penting dalam mempersiapkan pernikahanku:

catatan persiapan pernikahan
Pertama kali adalah aku mencari perias, aku bertanya ke teman dan kakak ipar serta mencari online. Akhirnya aku menemukan dan memutuskan untuk memakai Bu Herma karena beliau bukan cuma make up dan baju, tapi juga bisa memberikan paket Dekor, Foto & Video.

IG Bu Herma
Meskipun paketan, aku tetap bertanya dengan rinci apa saja yang termasuk dalam paketannya. Mungkin aku sangat menyebalkan bagi Bu Herma, tapi aku sangat berterimakasih.

Bae memberikan kontribusi untuk acara yang ada di rumah, meskipun di rumah Bae juga diadakan unduh mantu.

Acara pernikahanku ini begitu berkesan dan lega setelah selesai. Aku dan Bae, kami berdua bisa melanjutkan hidup setelah acara pernikahan tanpa ada utang. Alhamdulillah juga, kami berdua masih ada saku dari uang amplop 😎 . Karena aku memilih tanggal akhir bulan, kami nggak perlu lama-lama untuk terima gaji. Hahaha. Mungkin bisa dipertimbangkan juga lho untuk memilih tanggal pernikahan.

 Abis nikah masih bisa makan di Hanamasa, masih bisa Renovasi Rumah, masih bisa membeli barang impian yang tertunda dibeli karena harus mempersiapkan pernikahan.

Aku bersyukur, meskipun penuh perjuangan, aku memiliki banyak orang yang mau membantu. Kakak dan Kakak Iparku, mereka yang menjadi panitia inti. Mempersiapkan segalanya. Keluargaku yang lain, mau berepot-repot secara finansial dan tenaga membantu. Tetangga yang mau ikut pladen, membantu saat acara. Penuh syukur dan penuh rasa bahagia di pernikahanku ini.

Mempersiapkan pernikahan bisa sangat memusingkan, penuh emosi dan membuat kalian menyerah. Tapi selalu ingat, niat awal kalian.
 
Aku memulai planningku dengan Bismillah... menyelesaikannya dengan Alhamdulillah... 

"Saat kalian merasa sudah berada di pojokan, nggak tahu harus kemana, nggak kelihatan apa-apa. Bersyukurlah. Karena dengan bersyukur, kalian akan bisa melihat apa yang bisa membantu kalian."
 💸 42.000.000
BYE BYE Love You

COBA BACA YANG INI, DEH

Pengalaman Pertama Lolos Google Adsense Wow!

Hai, gimana kabar kalian? Baik? Ada yang berubah nggak dari blog aku? YAP, Sekarang ada IKLAN nya! Ih, kok sekarang ada iklannya sih?...

EH, BANYAK YANG LIHAT!